Kiat menghadapi masalah, menghindari stress

masalah1Seorang pemuda sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai, air mukanya ruwet.  Pikirannya tidak bisa membayangkan jalan keluar masalah yang dihadapi, seakan-akan pikirannya mentok merasakan berat  masalahnya. Tampak sekali bahwa dia sagat tidak bahagia. Ia mendatangi orang tua yang dikenal bijak di daerah itu dan menceritakan semua masalahnya, Pak Tua mendengarkannya secara saksama.

            Setelah curahan hati pemuda itu selesai, dengan tenang Pak Tua mengambil segenggam garam dan meminta tamunya itu untuk mengambilkan segelas air putih. Ditaburkannya segenggam garam itu ke dalam segelas air putih, lalu diaduk perlahan sampai semua garam larut. “Coba, minumlah air ini dan katakana bagaimana rasanya” ujar Pak Tua itu.

            “Pahit, pahit sekali” Jawab pemuda sambil meludah ke samping. Pak Tua tersenyum. Lalu mengajak pemuda itu untuk berjalan ke tepi telaga yang tenang. Pak Tua itu mengambil lagi segenggam garam dan menaburkannya ke dalam telaga itu. Mengaduk-aduk dan tercipta riak air mengusik ketenangan  telaga itu. Kemudian Pak Tua berkata”Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”

            Saat pemuda itu selesai meneguk habis air dari telaga itu, Pak Tua berkata “Bagaimana rasanya?” “Segar sekali” sahut pemuda itu tenang. “Apakah kamu merasakan garam dalam air?” “Tidak” Sahut anak muda itu.

            Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung anak muda itu lalu mengajaknya duduk berhadapan di samping talaga. “Anak muda dengarlah, cobaan kehidupan sebenarnya akan datang silih berganti mirip segenggam garam. Jumlah rasa asin dan pahitnya sama. Tapi yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Hatimu, persaanmu, kalbumu, pikiranmu adalah wadah tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan pikiran dan hatimu sekecil gelas, buatlah pikiran dan hatimu seluas telaga, mirip luasnya hati seorang ibu. Hati seorang ibu mampu meredam setiap tangisan, rengekan dan kenakalan anak-anaknya dan mengubahnya menjadi keceriaan dan kebahagiaan. Air sungai yang meluap ganas, mengamuk dan menghancurkan apa saja yang menghalanginya, namun di ujungnya, air sungai akan mengalir manis, karena keluasan laut akan menenangkannya.

            “Saya punya secarik kertas kumal ini, nanti di rumah kamu baca dengan tenang dan resapkan dalam pikiran dan hatimu” Si anak muda mengangguk-angguk, di rumah dibacanya dengan hati-hati kertas dari Pak Tua itu.

1.     1. Abaikan saja orang-orang yang membencimu. Waktumu dinanti oleh mereka yang mencintaimu. Jangan sampai ruang hatimu penuh sesak dengan rasa iri dan benci. Hingga hampir-hampir tak menyisakan ruang untuk yang dicintai.

2.      2. Untuk apa memendam kekesalan? Kita menderita dia tertawa. Kita sengsara, dia ceria.

3.     3. Membiasakanlah yang benar, bukan membenarkan yang biasa. Banyak orang yang menginginkan namun jarang yang mau memulainya. Banyak orang yang menginginkan surga namun masih nyaman dengan berbuat dosa.

4.      4. Orang-orang yang nggak pede dengan isi kepalanya, biasanya mengandalkan penampakan luarnya.

        5. Dekatkan dirimu kepada Alloh, banyaklah berdoa, memohon kepadaNya menyertai setiap usaha dan upayamu, “pasti” Alloh mengabulkannya.

Dengar Pendapat Umum Ketua MPR RI Dengan Warga LDII Yogyakarta

1034Ketua MPR RI Drs. Sidarto Danusubroto, SH di tengah-tengah kesibukannya menyempatkan diri mengadakan dengar pendapat umum dengan warga LDII Yogyakarta pada Sabtu, 22 Maret 2014. Acara dimulai pada pukul 09.00 berakhir pukul 12.30 wib diikuti penuh antusias oleh para peserta yang terdiri dari Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah LDII DIY, Dewan Pimpinan Daerah Kab/Kota se DIY, Ketua Pimpinan Cabang se DIY yang berjumlah 150 orang. Acara Dengar Pendapat Umum Tim Kerja Kajian Sistem Ketatanegaraan Indonesia MPR RI dengan tema “Peran MPR dalam Perencanaan Pembangunan Nasional”.
Dalam uraiannya Ketua MPR RI Drs. Sidarto Danusubroto, SH menguraikan sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, kebhinekaan merupakan kekayaan Negara Indonesia yang harus diakui, diterima dan dihormati. Kemajemukan sebagai anugerah juga harus dipertahankan, dipelihara dan dikembangkan yang kemudian diwujudkan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman tersebut telah diakomodasi dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Persami SAKO Sekawan Persada Nusantara Daerah Istimewa Yogyakarta

789Sebagai tindak lanjut pembentukan Sako Sekawan Persada Nusantara Daerah Istimewa Yogyakarta, telah diselenggarakan Kursus Mahir Dasar bagi Pengurus Sako Kab/Kota dan Gudep se DIY pada tanggal 1 dan 2 Maret 2014 di Pondok Pemuda Disdikpora DIY Ambarbinangun, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Kursus Mahir Dasar diikuti oleh 5 Sakocab yaitu Sakocab Kota Yogyakarta, Sakocab Kab. Sleman, Sakocab Kab. Bantul, Sakocab Kab. Kulonprogo dan Sakovab Kab. Gunungkidul, yang terdiri dari Gudep-gudep di masing-masing Sakocab dengan jumlah peserta 90 orang.

4 Pilar Kebangsaan Indonesia

pilarPilar biasa terdapat di dalam sebuah bangunan. Selain pilar, dalam bangunan terdapat pondasi, tembok, atap, lantai dan penghuni bangunan. Pilar adalah tiang penyangga atau tiang penguat sebuah bangunan. Pilar bisa terbuat dari balok kayu, rangka besi, rangka alumunium atau beton bertulang. Biasanya terdapat beberapa pilar dalam sebuah bangunan.

Pilar berfungsi sebagai penyangga seluruh beban bangunan. Betatapun indah sebuah bangunan tetapi tanpa didukung dengan pilar yang kuat, dapat dipastikan bangunan itu tidak mempunyai kekuatan, tidak akan mampu menahan beban bangunan serta terpaan gaya dari luar bangunan misalnya hujan, angin, gempa bumi serta bencana alam lainnya. Sebaliknya, meskipun bangunan berbentuk sederhana tetapi didukung dengan pilar yang kuat, secara teoritis bangunan tersebut mampu menahan seluruh beban bangunan serta terpaan gaya dari luar.

RESEP MENJADI GENERASI MUDA SUKSES DUNIA AKHIRAT

kl

Memperhatikan perilaku anak muda akkhir-akhir ini, semakin memprihatinkan. Kemerosotan moral semakin tajam. Mulai dari tingkah lakunya, cara bergaulnya, ta’dhim terhadap orang tua, keakraban dengan alat-alat elektronika, obat-obat terlarang,  bergaul bebas dan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain. Sementara banyak  para Penyelenggara Negara juga tampil dengan perilaku yang tidak dapat diambil sebagai tauladan. Krisis tauladan. !