Resep Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

        Ada salah satu peribahasabersatu Bahasa Jawa “Crah agawe bubrah, rukun agawe santosa”.  Peribahasa Bahasa Indonesia yang terkenal adalah Bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh. Bercerai berai/tidak rukun akan membuat kerusakan, rukun akan membuat sentosa/kuat. Peribahasa tersebut sangat tepat, praktis dan kenyataan. Karena bersatu sekumpulan semut yang berukuran kecil dapat mengangkat bangkai yang berukuran jauh lebih besar.

Peribahasa tersebut sangat penting bagi Bangsa Indonesia mengingat Negara Indonesia merupakan negara yang sangat majemuk. Namun kemajemukan itu bukan menjadi alasan untuk tidak bersatu. Bhineka Tunggal Ika, walaupun bermacam-macam suku bangsa, bahasa daerah, pulau, agama, adat dan kebudayaan, tetapi tetap satu yaitu Bangsa Indonesia.

Nenek moyang Bangsa Indonesia telah mengajarkan persatuan dan kesatuan, antara lain Bung Karno selalu meneriakkan persatuan dalam setiap pidatonya. Pada tahun 1908 Bangsa Indonesia telah mengucapkan ikrar untuk bersatu melalui Sumpah Pemuda.

Tidak dapat dibantah bahwa pada akhir-akhir ini banyak ditemukan gejala betapa persatuan dan kesatuan bangsa sudah mulai tercabik. Persatuan seolah-olah menjadi sulit untuk diwujudkan yang kemudian mengarah pada perpecahan dalam berbangsa, persatuan seolah-olah mulai menjauh. Munculnya aksi-aksi separatisme dan konflik SARA menjadi contoh nyata betapa rapuhnya persatuan bangsa. Apa yang ditakutkan bung Karno tentang musuh persatuan (disintegrasi) terjadi dengan jelas sekarang ini. Musuh persatuan nampak dari konflik sosial, separatisme dan gerakan-gerakan yang merongrong persatuan Indonesia dengan beragam bentuk teror semakin sering terjadi. Seringkali masalah yang sebenarnya masalah kecil/remeh berujung pada perselisihan dalam skala luas.

Seluruh komponen bangsa sudah saatnya untuk melakukan evaluasi mengapa hal tersebut di atas terjadi, kemudian melakukan antisipasi langkah apa yang dapat diambil untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa dimulai dari kerukunan dan kekompakan dalam keluarga, disusul kerukunan dalam suatu lingkungan masyarakat yang akhirnya dapat menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Berikut ini disampaikan resep menjaga kerukunan dan kekompakan yang pada akhirnya berujung pada persatuan dan kesatuan bangsa.

1. Mepraktikkan berbicara yang baik dan benar, pahit madu, enak didengar, santun, tata krama, unggah-ungguh, disesuaikan dengan lawan bicaranya. Berbicara jelek dapat menjadi awal dari pertengkaran dan permusuhan. Dengan berbicara yang baik, madu yang sangat manis seolah-olah terasa pahit oleh inti pembicaraan yang enak, tidak menyakitkan hati. Sopan santun, tata krama, unggah-ungguh, harus diperhatikan disesuaikan dengan lawan bicara. Gaya bicara dan intonasi bicara juga perlu diperhatikan agar tidak meninggung perasaan lawan bicara. Kadang-kadang perlu pengorbanan dan perasaan mengalah untuk membuat lawan bicara tidak tersinggung dan merasa senang. Bukan berarti dengan berbicara yang baik dan memperhatikan tata krama tidak mempunyai jati diri. Esensi masalah yang dibicarakan tidak berubah walaupun disampaikan dengan bahasa yang baik.

2. Menjunjung tinggi watak jujur, amanah, saling percaya dan mempercayai. Watak jujur, amanah dan dapat dipercaya merupakan modal awal kerukunan, sebaliknya watak tidak jujur, tidak amanah dan tidak dapat dipercaya merupakan awal dari tidak rukun, perpecahan, pertengkaran dan permusuhan. Bahkan Nabi Muhammad bersabda yang artinya “Tetapilah kejujuran, karena kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan pada surga dan menjauhilah berbuat bohong, karena bohong akan mengantarkan kepada fajir/kejelekan dan kejelekan akan mengantarkan pada neraka”. Kadang-kadang berat dan perlu perjuangan dan penuh godaan untuk menjunjung tinggi kejujuran, amanah dan dapat dipercaya.

3. Dilandasi dengan sifat sabar, berani mengalah, berebut untuk mengalah. Permusuhan dan pertengkaran dapat terjadi karena kedua belah pihak tidak dapat menahan amarah, emosional dan tidak mau mengalah. Sifat sabar, berani mengalah, berebut mengalah sangat diperlukan agar pertengkaran tidak terjadi. Mengalah bukan berarti kalah. Masalah dibicarakan dengan suasana dingin tidak emosional. Kadang-kadang perlu pengorbanan kedua belah pihak untuk mencari jalan keluar terbaik penyelesaian masalah yang dihadapi. Pengendalian diri sangat diperlukan untuk dapat mewujudkan sabar dan berani mengalah.

4. Menghormati hak orang lain, tidak merusak hak asasi dan kehormatannya, tidak merusak dirinya, tidak merusak harta bendanya. Kita menyadari setiap orang betatapun rendahnya, mempunyai hak asasi, mempunyai kehormatan yang harus dihormati dan dijunjung tinggi. Sifat tidak merendahkan orang lain, tidak menyakiti badannya, tidak merusak harta bendanya harus tetap dijaga untuk menciptakan pertemanan, kerukunan dan kekompakan.

5. Saling memperhatikan dan menjaga perasaan. Akan lebih baik lagi apabila sifat baik tersebut di atas, dilengkapi dengan saling memperhatikan dan menjaga perasaan. Tentu orang lain akan senang apabila diperlakukan diperhatikan dan dijaga perasaannya.

4 Responses to Resep Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

  1. Pak Dar says:

    Resepnya praktis namun dalam pelaksanaannya perlu kesabaran dan pengorbanan serta konsisten.

  2. SITI ALFIYAH says:

    Terimakasih ,ini saya jadikan referensi sy sebagai pembina pidato bahasa Indonesia. Siip…………..anda mengupas akar permasalah persatuan dan kesatuan.Yok………………kita sama sama mencintai anak anak penerus bangsa ,dengan sentuan kata kita bina karakter mereka.Salam persahabatanku

    • Pak Dar says:

      Terima kasih Anda menggunakan Artikel DPD LDII Kota Yogyakarta sebagai referensi. Kami akan lebih berterima kasih apabila DPD LDII Kota Yogyakarta dimasukkan dalam daftar pustaka tulisan.

  3. Pak Dar says:

    Terima kasih Anda telah menggunakan tulisan DPD LDII Kota Yogyakarta sebagai referensi tulisan Anda, dan kami yakin Anda memasukkan DPD LDII Kota Yogyakarta dalam daftar pustakanya. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>